Pelumas Sintetis, Pengertian dan Klasifikasi Pelumas Sintetis

Serba.site – Pelumas sintetik merupakan susatu zat cair yang di gunakan untuk melumasi permukaan kedua bagian yang saling bergesekan. Zat cair ini merupakan fraksi hasil destilasi minyak bumi, Umumya pelumas 90% terdiri dariminyak dasar dan selebihnya 10% merupakan zat tambahan.

Pelumas sering di gunakan pada dunia industri dan dunia otomotif. Biasanya di gunakan untuk pelumasan dan mendinginkan suatu mesin yang bergerak pada khususnya dan bagian bagian lain. Dengan kemajuan zaman yang sangat pesat, dan semakin berkembangnya teknologi menuntut semakin banyak kriterianya komposisi yang harus di penuhi oleh pelumas.

Untuk memenuhi komposisi pelumas tersebut maka berbagai macam zat adiktif di tambahkan pada komposisi pelumas untuk meningkatkan performa dan kualitas pelumas tersebut. Sehingga pelumas sistetis ini di buat untuk pengganti pelumas konvensional atau pelumas dari mineral murni untuk memenuhi kondisi sistem pelumasan yang tidak mampu di tangani oleh pelumas mineral.

Pelumas sistetis saat ini lebih banyak digunakan karena memiliki keunggulan di banding pelumas mineral karena pelumas sitetis molekulnya lebih homogen yang dapat memenuhi kebutuhan sistem pelumasan yang lebih efektif.

Pelumas Sintetis vs Pelumas Biasa

Pengertian Pelumas Sintetis

Pelumas sistetis merupakan pelumas yang di buat dari campuran base oil mineral dengan beberapa zat kimia adiktif untuk mendapatkan pelumas yang memiliki sifat-sifat sesuai yang diharapkan. Pelumas sistetis ini dibuat untuk memberikan pelumasan secara efisien terhadap kondisi yang tidak mampu dilakukan oleh pelumas konvensional.

Pelumas sintetis terdapat dua tipe yakni pelumas semi sintetis yang terbuat dari campuran base oil mineral dan bahan sintetis dengan campuran maksimal 30% oil sitetis. Kemudian yang kedua adalah pelumas Full sintetis yang secara keseluruhan pembuatan oil full sintetic ini terbuat dari bahan sistetis.

Baca Juga: Sistem Pelumasan Motor 2 Tak Lengkap

Klasifikasi Pelumas Sintetis

Pelumas sistetis memiliki beberapa tipe yang di klasifikasikan berdasarkan perbedaan karakteristiknya antara lain:

1. Polyol dan Diester

Sebelum ditemukannya oli mineral pelumas berasal dari lemak hewan ataupun tumbuhan. Pelumas sintetis ini dibuat dengan mereaksikan asam dan alkohol dengan air.

Penggunaan sintetik ester sebagai pelumas peforma tinggi sesuai dengan pengembangan mesin turbin dan jet. Turbin pesawat atau jet memiliki suhu kerja yang jauh lebih tinggi dibanding mesin lainya, oleh karena itu pelumasan pada mesin turbin dan jet ini harus memiliki kriteria dimana pelumas dapat melumasi secara maksimal pada suhu ekstrim. Diester digunakan secara luas pada industri penerbangan sebelum digantikan dengan polyol yang lebih memiliki stabilitas termal yang lebih baik.

2. Polyalkylene Glycol (PAG)

Polyalkylene Glycol di bentuk dari polimerisasi dari satu atau beberapa alkylene oksida. PAG merupakan rantai polimer lurus dan bercabang yang memiliki ikatan Ether pada struktur utamanya dan diproduksi dengan polimerisasi dari satu ataulebih alkylene oksida seperti ethylene oksida.

3. Poly Alpha-Olefins (PAO)

Poly Alpha-Olefins (PAO) merupakan hidrokarbon jenuh sintetis yang diproduksi dari linear alpha-olefins yang berasal dari ethylene. PAO memilikisifat fisik yang lebih baik dibanding oli mineral kisaran temperatur kerja yang lebih luas, termasik titik bakar yang tinggi dan viskositas yang tinggi.

4. Silikon

Silikon termasuk ke dalam polimer inorganik yang memiliki struktur molekul rantai berbentuk seperti tulang belakang dengan gugusan Si-O-Si. Oli sintetis tipe ini yang paling populer adalah polydimethylsiloxane (PDMS) dengan monomer (CH3)2SiO. PDMS diproduksi dari silikon dan metilklorida Contoh lain oli sintetis tipe ini adalah polymethylphenylsiloxane dan polydiphenylsiloxane.

5. Perflouroalkyl Ether (PFAEs)

Karakteristik utama PAE adalah daya tahan nya terhadap oksidasi dan 8atkimia korosif. Harganya yang tinggi membuat penggunaan pelumas ini sangatterbatas pada pesawat luar angkasa dan pompa vakum khusus pada industrielektronik. PFAEs mempunyai struktur yang mirip dengan PAG namun atom hidrogen digantikan dengan flourine. Banyak diaplikasikan pada pesawat luar angkasa dan digunakan pada lingkungan dengan tingkat oksidasi tinggimaupun lingkungan yang mengandung 8at kimia berbahaya.

6. Polyphenyl Ethers (PPEs)

PPEs mengandung ikatan cincin benzena dan rantai ether yang memilikikarakteristik digunakan pada kondisi kersa bersuhu tinggi; oksidasi tinggi danstabilitas terhadap radiasi.PPEs memiliki titik tuang yang tinggi dan kebanyakan tidak berbentuk cair pada suhu kamar. PPEs banyak digunakan pada pelumasan turbin pesawat supersonik militer dan pada pompa difusi vakum.

7. Alkylated Cyclopentanes

Alkylated Cyclopentanes pelumas ini banyak di gunakan pada industri penerbangan luar angkasa yang terbuat dari cyclopentadiene dengan alkohol.

8. Cyclohexane Derivates

Cyclohexane Derivates Pelumas ini banyak di gunakan pada kendaraan yang memerlukan traksi yang besar. Cyclohexane Derivates ini merupakan jenis pelumas yang di tujukan untuk aplikasi temperatur yang rendah.

Baca Juga: Sistem Pelumasan Motor 4 Tak Lengkap

Keunggulan dan Kekurangan Pelumas Sintetis

Pelumas sitetis adalah pelumas yang terbuat dari bahan tambahan zat kimia dan campuran oil mineral dari hasil bumi. adapun memiliki kekurangan dan keunggulannya yakni:

Keunggulan Oli Sintetis

  • Pelumas sintetis lebih stabil dan efisien pada temperatur tinggi.
  • Pelumasan terhadap logam lebih baik sehingga memperlambat kerusakan pada mesin.
  • Oli sistetis lebih awet terhadap oksidasi.
  • Dapat membersihkan mesin dan terhindar dari kerak
  • Lebih dapat mencegah terjadinya endapan karbon pada mesin
  • Lebih mampu mendinginkan mesin

Kekurangan Oli Sintetis

  • Harga lebih mahal karena proses produksi lebih rumit
  • Tidak cocok dengan mesin berteknologi lama atau Usang
  • Memungkinkan Berpotensi dekomposisi kimiawinya terhadap lingkungan.

Sample Komposisi Campuran Base oil dan Aditif pada Motor bensin

Minyak Pelumas Carter Untuk Motor Bensin
SAE 10W-30 SAE 20W-40 SAE 10W-40
% Berat rata-rata minyak dasar 89,5 90,5 84,5
% Berat rata-rata aditif yang digunakan 10,5 9,5 15,5
% Kenaikan Harga dengan adanya aditif 31,0 72,6 40,6
% Kenaikan harga adanya IV Improver 16,7 13,6 26,3

Demikian ulasan Serba.site kali ini mengenai sistem pelumasan khususnya pelumas sintetis, semoga bermanfaat dan berguna bagi anda para pembaca.

error: Content is protected !!